BANTUL, RABU - Perajin di Pasar Seni Gabusan atau PSG meminta pihak manajemen lebih berperan aktif dalam kegiatan promosi. Mereka berharap manajemen bisa bertindak sebagai trader, sementara para perajin sebagai suplier. Bila posisi trader bisa dijalankan, perajin yakin transaksi di PSG bisa melonjak.Syamsul Arifin, perajin gerabah yang sudah empat tahun ini membuka kios di PSG, Rabu (22/10) mengatakan, selama di PSG omzet bulanannya hanya berkisar Rp 200.000 - Rp 300.000.
"Uang itu hanya habis untuk membayar tenaga jaga saja. Untuk menekan biaya, penjaga terpaksa saya gabungkan dengan kios lainnya. Dampaknya pelayanan ke pembeli jadi tak maksimal," katanya.
Menurut Syamsul, kelemahan PSG selama ini adalah soal promosi. "Pihak manajemen seharusnya bertindak sebagai Event Organizer (EO) atau trader yang tugasnya mendatangkan pembeli. Selama ini pembeli yang datang masih minim . Manajemen seharusnya bisa lebih fokus ke upaya-upaya mendatangkan buyer", katanya.
Selain peranan manajemen yang harus ditingkatkan, penataan PSG juga dinilai kurang. Bila dilihat dari luar, pengendara yang hilir mudik di Jalan Parangtritis masih banyak yang belum tahu kalau di dalam PSG ternyata menyajikan aneka kerajinan.
Dari luar PSG seperti lokasi yang sepi. Tidak tampak ada pedagang yang menjajakan hasil kerajinannya. Seharusnya di bagian luar sudah tampak barang-barang kerajinanannya, supaya menarik minat pengunjung untuk masuk ke dalam. Kalau situasi luarnya saja sepi, bagaimana mungkin pengunjung bisa tertarik masuk ke dalam, kata Suradi, perajin tatah sungging yang juga memiliki kios di PSG.
Menanggapi masalah tersebut General Manager PSG Triwibowo S Nuswa mengakui belum memiliki tenaga khusus pemasaran. "Kami memahami kenginan perajin, tetapi kami juga tidak bisa berbuat banyak karena memang belum ada tenaga marketingnya," katanya.
Menurut Triwibowo, pihaknya tengah berusaha menjalin kerjasama dengan sejumlah tenaga marketing di Jakarta, yang biasanya mendatangkan buyer asing. "Tetapi karena sifatnya tidak secara khusus menangani PSG, peranan mereka juga tidak bisa terlalu diharapkan," katanya.
Manajemen berharap Pemkab Bantul turut membantu menyelesaikan masalah tersebut, agar keberadaan PSG tidak sia-sia.
compas.com




